AES#19 Miracle of 7 [Pendidikan]

Seharusnya saya merampungkan tulisan ini kemarin, tetapi karena ‘tepar’ setelah vaksin tulisannya jadi tidak tuntas. (Tepar antara abis vaksin sama ‘kebluk’ beda tipis yaaa…. Hahahahhaha…)

Pada tulisan kali ini saya ingin menyinggung keistimewaan angka 7 dalam pendidikan.

Pertama kali mendengar konsep 7 tahunan, ya dari Semi Palar. Unik ya… dari beberapa sekolah yang saya pernah bekerja disana, rata-rata menggunakan milestone perkembangan per tahun. Setelah ditelusuri dan dicari referensi, saya malah menemukan banyak hal mengenai konsep mendidik ala 7 tahunan. Salah satunya dalam Islam, yang cukup terkenal adalah cara mendidik anak dengan rumus 7x3 ala Ali bin Abi Thalib. Lainnya yang saya pelajari adalah konsep mendidik 7 tahunan ala Ki Hadjar Dewantara.

Menjadi guru hampir mirip seperti menjadi Ibu, tidak pernah ada yang siap kecuali kita menyiapkan diri, dengan selalu membuka diri untuk belajar. Anak-anak tentu membutuhkan contoh teladan dari orang dewasa disekitarnya, dan kunci utama keteladanan ada pada orangtua di rumah dan guru di sekolah. Dalam cara mendidik dalam Islam disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib, beliau seorang khalifah sekaligus sahabat Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalib membagi usia kelompok anak ke dalam 7 tahunan.

Ki Hadjar Dewantara juga menyampaikan konsep tersebut, saya kutip dari buku “Belajar Dari Ki Hadjar”,

“Untuk keperluan pendidikan, maka umur anak-anak didik itu dibagi menjadi 3 masa, masing-masing dari 7-8 tahun (1 windu): waktu pertama (1-7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak; waktu ke-2 (7-14 tahun) yakni masa pertumbuhan jiwa pikiran; masa ke-3 (14-21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti.”

Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai ‘raja’. Melayani anak di bawah usia 7 tahun dengan tulus dan sepenuh hati merupakan hal terbaik. Karena anak-anak akan meniru hal-hal kecil yang kita lakukan pada mereka, ini akan berdampak besar pada perkembangannya perilakunya. Kita percaya bahwa jika kita berusaha untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, penuh kasih sayang, perhatian, dan bertanggung jawab.

Di usia ini juga anak sedang bereksplorasi, terutama mereka senang bermain. Orangtua/guru sebaiknya mendampingi proses belajar mereka melalui eksplorasi panca indra dengan metode bermain yang cocok diterapkan.

Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai ‘tawanan’. Di periode ini anak sudah bisa diberikan hak dan kewajiban tertentu. Rasulullah SAW mulai memerintahkan anak untuk sholat wajib mulai usia 7 tahun, dan memperbolehkan orangtua untuk menghukumnya ketika anak melalaikan sholat setelah usianya 10 tahun. Karena anak-anak sudah mulai mengerti tanggung jawab, di kelompok usia ini sudah bisa diberikan konsep apresiasi positif maupun konsekuensi logis. Saya tidak berbicara tentang reward and punishment, karena saya sendiri meyakini bahwa kedua hal itu tidak membuat anak berkesadaran, mereka hanya akan melakukan kebaikan jika diberi hadiah, atau tidak melakukan karena takut pada hukuman. Mengutip perkataan Dr H Abdul Majid Khon dalam bukunya “Hadis Tarbawi. Hadis-Hadis Pendidikan”, 

"Karena pada usia inilah anak sudah mampu menerima perintah atau sudah paham menerima perintah yang disebut dengan istilah mumayyiz. Karena di usia ini kritis dan cerdas."

Kelompok usia 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai ‘sahabat’. Di usia 15 tahun umumnya anak menginjak akil baligh, orangtua atau guru lebih baik memposisikan sebagai sahabat yang memberi contoh baik, maupun sebagai teman bicara. Di kelompok usia ini anak bukan hanya mengalami perubahan fisik, tapi juga perubahan emosi, mental, spiritual, sosial, dan lingkungan. Sangat mungkin anak diusia ini menemukan banyak masalah dalam perjalanan hidupnya. Orangtua/guru harus memberi ruang agar tidak merasa terkekang, namun masih tetap dalam pengawasan. Diharapkan anak akan merasa penting, diakui, dicintai, dihargai, dan disayangi.

Itu dia penjelasannya! Sama dengan 7 tahunan di Semi Palar ya… Saya sepakat!



Salam,

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Nuhun kak Fifin sudah membantu mengelaborasi lewat tulisan ini. Semoga jadi manfaat buat banyak pihak. 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa