AES#16 Beralih dari Fisika Newtonian menuju Fisika Kuantum

Pertama-tama kita perlu berangkat dari pemahaman bahwa ilmu fisika yang kita pelajari selama ini sudah tidak lagi valid. Sains yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah adalah ilmu pengetahuan yang didasari pada fisika Newton – yang dikenal sebagai Newtonian Physics atau Classical Physics.

Sejarahnya begini. Saya coba ceritakan singkat saja. Sekitar 300 tahunan yang lalu, terjadi satu perdebatan panjang antara para ilmuwan dengan para pemuka agama – tentang bagaimana menjelaskan apa yang terjadi di alam semesta. Karena berbeda sudut pandang, mereka beradu pandangan dan setelah sekian lama akhirnya mereka membuat semacam kesepakatan untuk memilah dan berbagi ranah / ruang eksplanasi antara segala sesuatu yang fisikal (kebendaan) dan segala sesuatu yang sifatnya spiritual. Di situlah awal mula terjadinya pola berpikir umat manusia yang menjadi terkotak-kotak, terfragmentasi dan tidak lagi holistik. Hal ini yang dikenal sebagai DUALITY. Sains dan Spiritualitas adalah dua hal yang terpisah dan tidak bisa didiskusikan titik temunya.

Tiga ratus tahun lamanya, peradaban manusia dibangun oleh pola pikir yang seperti ini. Sampai suatu waktu para ilmuwan harus berhadapan dengan berbagai temuan yang membongkar cara berpikir ini; berhadapan dengan kenyataan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini serba terkoneksi. Cara pandang manusia-lah yang membuat kita gagal memahami keutuhan alam semesta ini. Pandangan2 baru ini saat ini dikenal sebagai Fisika atau Mekanika Kuantum.

Siang tadi, ibu saya mengirimkan informasi tentang sebuah webinar yang membahas tentang Biologi Kuantum. Pembicaranya adalah orang Indonesia. Kabarnya beliau ini – saat ini adalah satu-satunya pakar biologi kuantum. Masih langka memang, tapi intinya, kita semua sudah harus beralih dari sudut pandang yang mekanistik dan terfragmentasi menuju ke sudut pandang yang holistik. Dari Fisika Newtonian menuju Fisika Kuantum. Saya sendiri mengenal Quantum Physics dari filem What The Bleep do We Know di sekitar tahun 2010-an. Kajian tentang mekanika kuantum sudah jauh berkembang – dipandu oleh perkembangan sains dan teknologi juga. Kita sudah memasuki pemahaman bahwa pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta ini adalah enerji. Pemahaman yang sebetulnya sudah dikuasai betul oleh berbagai peradaban masyarakat jaman dulu. Penjelasan tentang ini akan disampaikan melalui posting-posting berikutnya. Salam.  

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • moved to jamroom

  • Di awal kelahiran Fisika Kuantum, ada dialog jenaka antara Einstein (pendukung determinisme sains) dan Niels Bohr. Einstein yang kurang setuju dengan sifat probabilistik Fisika Kuantum mengatakan, "God does not play dice." Bohr menyahut, “Einstein, stop telling God what to do." 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa