Melanjutkan cerita saya tentang bersepeda di edisi sebelumnya... 

 

Saat melewati bengkel sepeda, saya meminta Pak Toto untuk berhenti, “Pak, saya turun disini saja. Mau ke bengkel dulu.” Pak Toto berhenti sambil tersenyum, “Alhamdulillah nyampe… Hahahaha… Baru pertama kali nih saya…” Saya hanya mengatakan terima kasih untuk kesediaannya membawa saya bersama sepeda saya. Setelah itu saya berdoa, semoga Tuhan membalas kebaikan Pak Toto berkali lipat. Kemudian saya menekan 5 bintang beserta tips untuk Pak Toto.

Awalnya saya memang mau ke bengkel untuk memperbaiki rem, namun sepanjang perjalanan tang dan badan sepeda bengkok karena dipaksa untuk ditarik menggunakan motor sambil saya pegang dengan rute jalan yang menanjak secara konsisten. Untungnya bengkel tersebut tidak jauh dari rumah, saya bisa menyelesaikan perjalanan pulang dengan segala pengalaman serunya. Orang rumah tahunya saya berhasil pulang sampai rumah, mereka tidak tahu bahwa sepedanya ditarik memakai ojek online. (^.^)’

Belajar dari pengalaman tersebut, saya coba menuliskan kembali kesalahan awal :

  1. Merupakan pengalaman baru untuk saya bersepeda kembali setelah sekian tahun tidak pernah bersepeda.
  2. Belum mengenal rute yang akan dilalui. (Biasa naik motor, hanya menikmati angin sepoi tanpa mengenali rute dan medan jalannya)
  3. Sepeda belum diuji coba sebelumnya, bagaimana posisi jok supaya beban tidak pada kaki, kondisi rem, penggunaan gigi (skala 1-7).

Dari kesalahan tersebut, saya mengatur beberapa strategi supaya saya mampu mencapai tujuan saya bersepeda, untuk olahraga. Mengatur jadwal bersepeda rutin seminggu dua kali dengan rute yang bertambah secara bertahap, seperti atomic essay smipa ini, mencoba membangun pembiasaan terlebih dahulu. Sambil bersepeda rutin, mengulik kondisi sepeda mencari mana yang paling nyaman digunakan untuk rute yang akan ditempuh nanti (pulang pergi ke Sukamulya). Terakhir nanya Pak Suami, rute-rute yang dapat dilalui selain jalanan yang menanjak tersebut, siapa tau sebetulnya ada jalan tikus yang nyaman untuk dilalui dengan sepeda.

Yosh!! Ternyata, dalam proses belajar untuk mencapai sesuatu, kesalahan diperlukan untuk kita dapat melakukan perbaikan. Menurut saya, ada dua tipe pembelajar, yang sekali belajar langsung bisa, atau harus dibenturkan dengan kesalahan terlebih dahulu baru bisa. Saya sih memilih yang kedua, lebih terasa dinamikanya.

 

Semangat belajar!!


Salam,

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Mantap. Keren pengalamannya. Dapat bonus pembelajaran plus 2 esai untuk EAS ini ya... 
    Semoga tetap semangat. Masukan nih kak Fifin tambahkan tagar gowes. Supaya nanti tulisan2 terkait pengalaman pergowesan bisa kita tempatkan tautannya di ruang GOWES SMIPA 

    Mudah2an suatu waktu nanti ada kesempatan gowes bareng. 

    Gowes Smipa
    Rumah Virtual - Ruang Interaksi Keluarga Besar Semi Palar. Tempat kita menjalin koneksi dan berbagi gagasan untuk peradaban yang lebih baik.
    • waaaah... ada yaaaa.... 

      asiiiikkkkkk... siapp Ka Andy.... 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa