Empat tahun lebih sepertinya saya tidak pernah naik sepeda, niat mulianya sih mau mulai lagi, karena sudah empat tahun itu pula saya tidak pernah olahraga. Olahraga yang saya lakukan hanya jalan kaki keliling komplek rumah, itu juga tujuannya untuk memperlancar proses lahiran.

Hingga saya merasa inilah saat yang tepat untuk mulai lagi bersepeda, sekalian pergi pulang kerja. Mulailah mencari-cari sepeda dengan harga promo (maklum Ibu-ibu banyak pertimbangannya). 

Senin kemarin saya langsung mencoba sepeda baru tersebut dengan trek Geger Arum - Sukamulya dengan kondisi benar-benar sepeda baru, belum pernah diuji coba, dan tanpa tahu medan yang akan dilewati. Modal nekat! Pergi pagi, udara segar, jalanan turun, yang justru karena itu saya selalu memegang rem belakang sampai berkali-kali remnya lepas. Bersyukur sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Siang hari saat hendak pulang, saya mencari bengkel sepeda untuk memperbaiki rem sepeda. Karena bengkel sepeda katanya sudah tidak ada, bapak-bapak penjaga sekolah membantu saya memperbaiki rem depan dan rem belakang. Namun, masalah dimulai saat saya mulai memboseh sepeda. Ternyata trek menuju rumah jalan nya nanjak secara konsisten, setiap beberapa meter saya berhenti untuk menghela nafas dan beristirahat. Saya masih punya semangat hingga akhirnya saya menyerah di daerah Cipedes Tengah.

9053873655?profile=RESIZE_710x

Ditengah kelelahan, otak saya tidak berhenti untuk berpikir. Bagaimana caranya saya sampai ke rumah disaat fisik saya sudah lelah. Tercetuslah sebuah ide, saya pesan ojek online dengan sebuah pesan untuk supirnya, “Pak, saya bawa sepeda. Nanti saya pegang.” Siapa tau mamang ojeknya ga mau, jadi saya kasih pesan duluan. Tidak lama, ada yang menerima pesanan saya, Pak Toto namanya. Dengan beberapa pertimbangan, jika menggunakan cara lain, kurang memungkinkan. 

Sebelum motor jalan, Pak Toto bertanya, “Gimana ya kita bawanya? Yakin bisa?”, saya jawab BISA (dalam hati; KUDU BISA!!!). “Ya udah, kalo yakin, ayok!!!” Pak Toto tertawa sambil berkata, “Baru pertama kali nih saya… Hahahaha…” Diawali bismillah, kami pun mulai perjalanan. Sepanjang jalan yang menanjak secara konsisten, Pak Toto terus menerus bertanya apakah saya masih sanggup memegang sepedanya, dan saya jawab dengan tegas, “Masih sanggup Pak!” (dalam hati sih udah pengen nangis).

Mau tau kelanjutan ceritanya? Nantikan di tulisan berikutnya ya… \(^0^)/


Salam,

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Wah itu tanda tanya saya waktu liat ka Fifin bawa sepeda. Kebayang saya pulangnya nanjak. Trus kata temen2 Mujaer sepedanya ada yg ga bener... 🙁

    Tau gitu saya bantu liatin sepedanya kemaren, tp tampaknya sdh buru2 mau pulang. Moga2 ga kapok ka Fifin... 

    • hahaha... ini pengalaman terkeren, teraneh, terabsurd... hihihihi... 

      poin pentingnya ada di lanjutan tulisan ini... 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa