AES01 Sebuah Mantra

"Learning by doing, doing to earn, earning to live, living to serve."

Adalah sebuah mantra yang selalu saya pegang sedari saya mengikuti pendidikan di pramuka. Karena dalam hidup ini, banyak hal perlu kita praktekkan untuk benar-benar memahami dan menjadikannya kebiasaan dalam keseharian kita.  "Konsisten" adalah kata kuncinya. Memulai menjalani sesuatu itu sulit, tapi jauh lebih sulit untuk menjaga pelaksanaannya secara konsisten. 

Tidak perlu jauh-jauh, saya sebagai seorang muslim, masih sangat kesulitan untuk bisa secara konsisten menjaga salat dan mengerjakannya di awal waktu. Atau untuk meluangkan waktu secara rutin berolahraga. Kayaknya yang selalu bisa secara rutin saya lakukan adalah scrolling sosial media. Hehehehe.

Namun, berkat mantra tersebut saya berhasil menjalani kehidupan sejauh ini. Saya memahami dimanapun diri kita berada, tugas kita adalah untuk senantiasa memberikan yang terbaik. Karena pada akhirnya, perbuatan-perbuatan kita selama kita hidup yang menentukan siapa diri kita.

Kadang ada hari-hari dimana saya ingin menyerah saja, tidak perlu hidup lagi. Karena rasanya hidup itu bikin repot. Dan saya cuma jadi beban dan merepotkan orang lain. Apalagi kalau mengingat betapa banyak kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Dan pastinya kesalahan-kesalahan yang akan saya lakukan di masa depan.

Belum lagi kalau kita mendengarkan komentar atau masalah-masalah di masyarakat. Rasanya bodoh sekali. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki kondisi saat ini. Boro-boro membangun masyarakat, menjaga keluarga sendiri saja masih kesulitan.

Memang begitu tampaknya sifat manusia, fitrahnya untuk selalu mengeluh, dan menjadikan setiap hal itu sebagai suatu masalah, dan ingin menang sendiri. Sudut pandangnya egois, dan banyak masalah di kehidupan masyarakat seperti korupsi, rasisme, akarnya adalah penyakit egois. Dan inilah peran saya sebagai seorang pendidik. Mendorong teman-teman untuk selalu bisa melihat sudut pandang positif dari segala sesuatu, mengulurkan tangan untuk membantu mereka berdiri kembali, dan memberikan wawasan mengenai bagaimana mereka bisa mengenali diri, dan bagaimana kelak mereka akan hidup dan turut serta membangun masyarakat.

Untuk mengajarkan pengenalan dan pemahaman tentang diri kepada orang lain, maka diri kita sendirilah yang harus menjadi contohnya. Seperti cerita Gandhi, suatu hari ada seorang ibu yang kebingungan karena anaknya itu tidak bisa dikasih tahu. Menurut dokter, anaknya tidak boleh makan garam, sudah segala cara dilakukan namun gagal. Sebagai cara terakhir, ibu itu menemui Gandhi. Setelah mendengar keluh kesah dari ibu tersebut, Gandhi meminta ibu dan anaknya tersebut untuk kembali minggu depan. Seminggu pun berlalu, dan saat waktunya tiba, Gandhi mengajak bicara anak tersebut. Ajaibnya setelah pertemuan tersebut anak itu berubah. Dia mau menuruti apa kata Gandhi. 

Ibu yang penasaran itu bertanya, kok bisa? Gandhi menjawab, saat ibu itu tiba pertama kali untuk meminta tolong, dia tidak bisa membantu, karena ia masih memakan garam. Maka dia meminta untuk datang seminggu lagi, untuk bisa mempraktekkan apa yang ia akan nasihatkan. Sehingga saat bertemu dengan anaknya di minggu berikutnya, kata-katanya bukan hanya sebuah kata-kata tapi sudah mewujud jadi sebuah tindakan. Menjadi teladan adalah cara utama bagi seorang pendidik untuk bisa membangun karakter orang lain.

Seperti kata-kata Ki Hajar Dewantara, "Ing ngarso sung tulodo", seorang pendidik mau tidak mau harus menjadi teladan dimanapun dan kapanpun ia berada.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Selamat untuk atomic essay pertamanya, Kak Braja. Ditunggu postingan-postingan berikutnya. 🤓👌

  • Andy Sutioso kak ini tulisan saya, hatur nuhun :)

    • Nuhun kak Braja. Saya selalu suka baca tulisan2 kak Braja. Senang sekali sudah dibagikan di sini. Bakalan banyak hal yang bisa dibagikan buat kita semua saling belajar di sini. 

      Saya asumsikan akan ada AES02 setelah tulisan ini karena sudah ada kode AES-nya. Mudah2an tidak berharap berlebihan. Punten kodenya tidak menggunakan kode tagar, jadi tuliskan saja AES02, karena ada error kalau mau dishare menggunakan tombol WA di Ririungan ini. 

      Sama tambahkan juga tagar lain (kata kunci tambahan) supaya bisa difilter menggunakan tagar yang ada... misalnya #refleksi #musik atau lainnya. 



    • oke kak. nuhun

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa