AES#08 Pengingat Diri

Apakah kamu bahagia?

Apa indikator seseorang dikatakan bahagia?

Jalan-jalan sesuka hati? Punya saham dimana-mana? Punya mobil terbaru? Jadi CEO masuk Forbes? Jabatan tinggi mau apa tinggal tunjuk dan lain sebagainya? Yakin itu bahagia??

Pernahkah melihat ibu-ibu atau bapak-bapak di pinggir jalan menjajakan koran atau cemilan dagangannya? Atau melihat embah-embah yang  berjualan panganan tradisional? Ketika melihat mereka yang sering dibilang “kurang beruntung” terbesit dalam hati perasaan sedih atau kasihan? namun melihat senyum sumriangan tulus dengan menampilkan senyum gigi pepsoden, rasa-rasanya mereka jauh lebih bahagia. Mereka lebih bahagia, lebih tenang tidur dan hidupnya dibanding kita atau para pejabat. Kita yang sering was-was dengan bursa saham yang tiba-tiba turun, kepikiran bayar pajak, terganggu dengan berbagai “titipan-titipan” rasanya dari tidur sampai bangun sampai tidur lagi hati tak tenang.

Jika ditanya apa si tujuan kamu hidup? Sering saya dengar banyak menjawab “ingin bahagia”. Lalu bagaimana bahagia seperti apa? Bagaimana mendapatkan kebahagian? Dari saya masih anak-anak sampai masuk dunia kuliah, bahagia selalu dikaitkan dengam “material” dengan standart yang seakan-akan sudah jadi hak paten.

Standart bahagia yang sudah menjadi hak paten, seakan-akan menjadi tujuan hidup manusia agar mendapat label “manusia sukses, manusia bahagia”. Padahal kan bukan begitu konsepnya :) (ceuk  anak twitter )

Video yang ditampilkan pada sesi pembekalan TP 17 hari pertama “Beyond Thinking” menjawab dan menggenapi pertanyaan saya tentang bahagia.

Standart bahagia yang menjadi hak paten menjadikan manusia selalu mencari kebahagiaan dari luar dirinya yang bersifat materi dan sebenarnya kita pahami juga bahwa materi itu sifatnya tidak long lasting dan tidak ada pernah cukup sampai individu itu sadar bahwa cukup itu cukup. Mendapat bahagia dari luar yang bersifat materi membuat manusia menjadi human doing (hanya menjadi objek dari ambisinya mencapai “standart bahagia” tersebut).

Kebanyakan dari kita termasuk saya focus mencari di luar, padahal jawabannya ada di paling terdekat dengan kita yaitu diri kita sendiri. Sudahkah kita mengenal diri sendiri? Sudahkah kita mencintai diri kita sendiri? Sudahkah kita mendengar isi nurani diri sendiri?

Kadangkala kita selalu mencari jawaban diluar namun lupa berpikir kedalam.

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Alhamdulilah filmnya bermanfaat kak Ika.

    Semoga bisa menempatkan thinking sesuai porsinya ya.  

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa