AES#08 D.U. 68 Musik

AES#08 D.U. 68 Musik

Salah satu tempat nongkrong favorit saya adalah D.U. 68 Musik. Toko CD, piringan hitam, dan kaset bekas yang dinamai sesuai alamatnya: Jl. Dipati Ukur No. 68.

Saya berteman baik dengan Bang Vikri, sang pendiri toko itu. Usia kami tidak terpaut jauh sehingga selera musik kami banyak kesamaan. Di toko Bang Vikri sering berkumpul para pencinta musik. Kami yang semula hanya pelanggan Bang Vikri kemudian jadi saling berteman.

Ada fenomena menarik yang saya amati setiap kali ngopi-ngopi di sana. Anak-anak muda yang masih kuliah banyak yang datang mencari kaset. Mengapa mereka mengoleksi kaset-kaset itu? Bukankah semuanya sekarang sudah tersedia di berbagai platform audio streaming semacam Spotify, Apple Music, atau bahkan di YouTube?

Saya jadi teringat masa remaja di desa dahulu. Ketika SMP, saya dan seorang teman rutin menyimak American Top 40 dari siaran radio Voice Of America, stasiun Malaysia. Gelombangnya SW 2. Program itu hanya sekali seminggu. Meskipun suaranya kresek-kresek timbul tenggelam, tapi senangnya minta ampun.

Di masa SMA hingga kuliah, selain radio, saya juga mendengarkan musik dari tape recorder. Maka kalau saya membeli kaset di toko Bang Vikri guna menghadirkan kembali suasana masa lampau yang pernah saya lalui, itu bisa dimengerti.

Apakah kemudahan yang diberikan teknologi masa kini telah menghilangkan sesuatu aspek dalam pengalaman dan penghayatan kita? Apakah karena sekarang semuanya serba gampang, makna yang diresapi jadi malah berkurang?

Andaikata kebahagiaan atau fulfillment atau apapunlah itu namanya bisa diukur secara kuantitatif: apakah levelnya lebih tinggi yang saya alami dulu saat mendengar lagu-lagu dari radio butut sekali seminggu ketimbang yang anak-anak muda sekarang dapatkan dari Spotify—yang tinggal pilih jutaan lagu, kapan saja, di mana saja, dengan kualitas audio yang lebih unggul? Itukah sebabnya mereka memburu kaset-kaset bekas di D.U. 68 Musik? Mencari kelangkaan di tengah-tengah keberlimpahan?

Kak Andy pernah menuliskan pengalamannya sewaktu berkunjung ke Bumi Langit, Imogiri, Yogyakarta. Tatkala meninggalkan desa itu, ada kesenduan yang lirih mengendap di hatinya.

Rasa rindu selazimnya panggilan nostalgia. Tapi ini sebentuk kerinduan yang berbeda. Kangen kepada yang bukan masa lalu kita.

 

"In contradiction and paradox, you can find truth."Denis Villeneuve

 

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa