AES 058 Kawanan

 https://www.instagram.com/p/CRj_2S9rGSb/

Kebersamaan bukan kesamaan dan persamaan bukan penyamaan. Itulah nilai yang dari dulu dipegang untuk bisa tegak berjalan, sebagai mahasiswa kemudian pekerja swasta, dan pegiat kesetaraan. Bukan kesetaraan yang heboh di media-media atau yang dipamerkan di akun-akun influenza. eh, influencer. Sama-sama bikin bersin jadi suka ketuker nih.

Kesetaraan yang digiatkan waktu itu adalah kesetaraan akses. Makanya, tidak perlu kesamaan dan tidak perlu penyamaan. Akses yang terbuka untuk semua akan diakses sesuai kemampuan dan keunikan masing-masing. Tidak pernah akan sama sekaligus tidak pernah akan tidak sama. Maksudnya, bahkan di minat dan gerak yang sama selalu ada perbedaan yang potensial kolaborasi. Eh, kooperasiKarena konotasi kolaborasi di kamus arahnya kurang asik.

Walaupun nanti ada persoalan lain yang jadi permasalahan, akses terbuka dan bebas memang. Aksesibilitas yang tidak. Itu bahasan lain lagi aja deh, sekarang lebih kepada kesetaraan aja. Nilai yang dipegang, tertulis tadi di awal, terkonfirmasi dengan penjelasan salah satu figur publik yang adalah pegiat kesetaraan juga. Dia bilang, ada dua batang kayu berbeda panjang dari pangkal ke ujungnya.

Persamaan adalah meletakan ujung batang di posisi yang sama tinggi, jadi pangkalnya bisa berbeda. Seperti latar belakang,  potensi, kemampuan, dll dengan visi dan orientasi yang sama. Sedangkan penyamaan adalah meletakan pangkal batang di posisi sama rendah, jadi ujungnya berbeda. Inilah yang jadi ilustrasi kesamaan, ujungnya dipotong jadi sama tinggi. Seperti mengebiri keunikan.

Konsep barusan juga belum lengkap dan berbahaya, bisa jadi individualisasi kebablasan. Padahal tujuan konsep di atas adalah individuasi. Bedanya cari tau di internet aja yah. Individu - dari kata in-divide, tak terpisahkan. Jadi menemukan keunikan diri adalah langkah untuk menjadi bagian kebersamaan. Tantangannya di kesamaan tadi, karena banyak yang mengambil jalan mudah bersama karena sama. Inilah akar kompetisi dan hirarki represif.

Hirarki baik tuh yang representatif. Mengakomodasi perbedaan kemampuan untuk menyetarakan akses bagi semua member kawanan, tujuannya kan kepenuhan bukan kelebihan. Baiklah pertama menemukan persamaan tanpa melaksanakan penyamaan, dari kesamaan itulah rangkaian kebersamaan terjalin. Jelas akan berdasarkan kebutuhan, bagaimana dengan bersama semua kebutuhan dasar terpenuhi.

Kunci pemenuhan kebutuhan dasar ini adalah bahwa semua anggota kawanan terfasilitasi walaupun tidak terakomodasi. Biarpun begitu, satu bentuk fundamental dari terfasilitasi adalah paling tidak satu kebutuhan dasar terpenting terakomodasi. Dengan penjelasan dari sudut pandang lain, kalau ada satu member saja tidak terakomodasi satu kebutuhan dasarnya di dalam kawanan ini, kepentingan bersama menjadi tidak ada lagi. Yang ada kepentingan golongan melawan satu orang. Kawanan pun berubah jadi gerombolan.

Contohnya, kebutuhan dasar rasa nyaman. Karena kalau nyaman pasti aman, kalau aman belum tentu nyaman. Ini iklan helm sih. Memfasilitasi kepentingan bersama berarti semua orang paling tidak terakomodasi rasa nyamannya. Titik. Dalam rangka memfasilitasi ini, ada member yang terakomodasi usaha bisnisnya ada yang tidak. Ada yang terakomodasi di banyak hal dan ada juga yang hanya terakomodasi di kenyamanan saja. Ini sudah cukup ideal dan sudah baik.

Kalau saja dengan dalih pelebaran jalan, satu saja member kehilangan akomodasi rasa nyamannya. Ini bukan lagi demi kepentingan bersama. Kawanan berubah jadi gerombolan. Kepentingan golongan melawan kebutuhan satu orang. Kalah menang pun dilahirkan. Dengan alasan bertahan hidup, biasanya yang ditindas akan diam bertahan. Bukan karena lemah, justru karena tidak memiliki akses untuk pindah kawanan.

Soal pengetahuan, sudah tumpah-tumpah lah. Soal masukan saran apalagi, meluap-luap. Soal nasihat, waaa.. gausah ditanya. Hasil penelitian tahun dua ribu sepuluhan kan katanya warga kita adalah masyarakat yang paling sering memberi. Memberi nasihat. Dan kata-kata lah yang menutup aksesibilitas orang kebanyakan ini. Lalu, hubungan dengan video di awal apa?

Gak tau sih, kelintas aja ingin merangkaikan. Soalnya samar-samar kebayang sesuatu. Bisa jadi, tren investasi adalah ekses dari kejenuhan pola kawanan jadi gerombolan yang dialami. Kalau lingkungan tempat tinggalnya sudah nyaman, sepertinya investasi akan diletakan di relasi. Bukan di properti. Jadi kelintas will to powernya Nietszche, ah nanti lagi ah..

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa