AES#01 Mengapa Harus Menulis? [Sebuah Awal]

Mengapa harus menulis?

 

Menulis bagi saya adalah jalan untuk menyampaikan isi pikiran, lebih baik daripada komunikasi verbal.

Ya! Saya memang pernah memiliki kesulitan dalam komunikasi verbal. Terkadang, apa yang saya sampaikan berbeda dengan apa yang ada di pikiran.

Sejak kecil saya terbiasa diam dan larut dalam catatan di buku-buku harian, mungkin karena budaya keluarga yang juga tidak saling berkomunikasi. Bicara hanya seperlunya, kalau ada yang penting, tidak lebih dari itu.

Kebiasaan itu tentu saja terbawa hingga dewasa, sekolah, kuliah, bahkan dunia kerja. Suatu hari pernah saya dicap, "Orang kaya kamu ga akan berhasil di dunia ini, mau jadi apa?" di depan banyak orang. Bersyukur ada satu orang yang membela, "Dia bisa jadi penulis buku kok!" disaat saya hanya bisa terdiam.

Dan, ajaib… Beberapa tahun kemudian ucapan itu menjadi kenyataan. Sebuah pencapaian, saya berkontribusi dalam penulisan buku pendidikan bersama Komunitas Guru Belajar, tidak hanya 1 tapi 3 buku. 

Padahal kalau melihat kembali ke masa sekolah SMA dulu, saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah remaja, dan tulisan saya masuk dalam lima besar. Saya bahagia, tapi sekaligus merana, karena ternyata kemampuan menulis juga harus diikuti dengan kemampuan menyampaikan tulisan dengan bahasa lisan yang baik. Ketika saya harus mempresentasikan karya tulis di depan juri dan penonton lain, rasa cemas saya kambuh, keringat dingin, seperti bisu, dan air mata pun mengalir. Sejak hari itu saya langsung merobek dan membakar semua buku harian tanpa tersisa, hati saya terkoyak. Saat itu hanya bisa terisak tanpa berkata. Saya mempermalukan diri sendiri dan tentu saja, sekolah yang saya wakili. Kemudian saya berjanji pada diri sendiri, saya tidak mau menulis apapun lagi.

Lalu, bagaimana saya bisa kembali menulis? Jawabannya akan saya tulis dalam tulisan berikutnya... 

Salam,

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Comments

  • Selamat Mbak Fifin untuk atomic essay pertamanya. Setuju banget, dalam berkomunikasi, tulisan punya keunggulan yang tidak dimiliki ragam lisan.

  • Terimakasih Kak Fifin tulisannya bener2 menyentuh 

  • Yaaay. Selamat buat posting pertamanya Fifin Agustini S 
    Welcome to the club... Semoga bisa terus konsisten ya. Mari saling menyemangati. Colek juga Ahkam Nasution yang menuju esai ke dua-nya... 

    Terima kasih buat catatan reflektifnya. Semoga muncul motivasi baru di sini, bersama-sama... 

This reply was deleted.

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa