HENING

5264408863?profile=RESIZE_400x

HENING

Salah satu yang unik di Smipa adalah adanya Waktu Hening. Karena unik dan jarang ditemui di sekolah lain, pada tahun 2014, dalam kolom KEPING edisi IX, saya sempat menulis tentang Waktu Hening ini. Mudah-mudahan masih relevan dengan kondisi saat ini dan sahabat Smipa yang belum sempat membaca, bisa membacanya disini.

Keheningan adalah pekerjaan paling sulit yang harus diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam kerumitan kehidupan yang serba cepat ini. Tuntutan untuk mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan pada saat bersamaan telah menjadi keseharian kita. Sering kita lupa untuk memaknai apa yang kita kerjakan diantara semua kerumitan keseharian kita. Semuanya seolah-olah hanya sebatas rutinitas saja. Hal ini rupanya tidak hanya terjadi di kalangan orang dewasa, namun juga pada anak-anak kita, yang tidak jarang mereka juga dapat mengalami berbagai tekanan, yang berujung pada stress. Anak perlu dilatih sedari dini untuk bisa memaknai setiap kegiatan yang ia lakukan. Change experience life.

Ketika keseharian kita berlangsung dan berlalu begitu saja tanpa pernah ada suatu proses pemaknaan, pada akhirnya hal ini hanya menumbuhkan hati-hati yang kering di dalam diri begitu banyak individu modern saat ini. Akibatnya dapat kita tebak, kejahatan dan kekerasan muncul di mana-mana, pelecehan seksual, perkelahian, munculnya berbagai bentuk dekadensi moral, stres, kurangnya kesetiakawanan sosial, dan lain sebagainya.

Apakah dunia seperti ini yang kita cita-citakan? Tentu tidak. Seorang yang bijaksana pernah berkata, “Marilah kita memperlambat kecepatan untuk mengentaskan ketertinggalan.” Kata-kata ini tentu menggelitik kita semua. Sungguh bertolak belakang dengan realita kebanyakan. Orang akan cenderung berlari/mengejar lebih kencang agar tidak tertinggal. Cobalah kita renungkan sejenak, dengan memperlambat kecepatan, menghadirkan hening sejenak, dari pikiran cepat ke pikiran lambat, dari realitas alam pikiran ke alam Tuhan, di mana segala sesuatunya tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Dalam situasi ini, apalah artinya sebuah kecepatan.

Ada baiknya kita menemukan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menyaring angin”.

Lao Tzu pernah berkata “Silence is a Source of Great Strength.” Orang bijaksana lain juga pernah berkata, “Melalui Hening kita akan menuai Doa; Melalui Doa akan menuai Iman; Melalui Iman akan menuai Kasih Sayang; Dari Kasih Sayang tumbuh Pelayanan.” Kita lihat bahwa suatu karakter dan buah dari karakter itu dibangun mulai dari Hening.

 “We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness. God is the friend of silence. See how nature – trees, flowers, grass – grows in silence; see the stars, the moon, and the sun, how they move in silence… We need silence to be able to touch souls.”

- Mother Teresa -

Menurut ahli psikologi dari New York University, Prof. Iris Fodor, pengalaman HENING yang dilakukan berulang-ulang selain mampu menumbuhkan self-awareness, mengurangi stress, membuat kita lebih kreatif, meningkatkan skill verbal, menulis, serta artistiknya, juga dapat menumbuhkan deret kemampuan berpikir out of the box. Hal ini sangat strategis bagi bekal kita  dan anak-anak kita dalam pemecahan masalah-masalah yang akan dihadapi.

Sahabat-sahabat Smipa yang berbahagia, tentunya kita sepakat bahwa kita berharap kehidupan yang kita dan anak-anak kita jalani saat ini akan menjadi kehidupan yang bermakna. Kesuksesan yang kita raih adalah kesuksesan yang mulia, yang tidak hanya berhenti pada tataran What to get and What to have. Melainkan melampaui itu semua, What to give, What to care, What to share, and What to love.

Salah seorang sahabat, Gobind Vashdev dalam bukunya Happiness Inside menyebutkan, menemukan apa yang benar-benar kita inginkan, memerlukan sebuah KEHENINGAN. Suara hati barulah terdengar ketika pikiran kita tidak disibukkan dengan ketakutan masa depan atau hitungan untung rugi. Keinginan yang dimaksud adalah hasrat hati bukan ego yang ingin diperhatikan. Keheningan akan membantu kita mengenali pertanda-pertanda yang ditunjukkan alam, merefleksikan kehidupan kita. Agar kehidupan kita benar-benar hidup yang pantas untuk dijalani.

Dalam banyak cerita sejarah, kitab-kitab suci, atau cerita turun-temurun dari para pendahulu kita, sering diceritakan tentang adanya seorang sosok yang visioner, holistik, bertindak dengan high spontanity, memahami keseimbangan, harmoni, memahami kebenaran, dan memahami konteks sekaligus secara bersamaan. Mereka memiliki kemampuan spasial, kepemimpinan yang transformatif, dan bijak. Merdeka dari tekanan ego dalam diri, serta dari tekanan paradigma dunia luar. Dan sosok-sosok seperti itu juga diceritakan melakukan banyak physical distancing, melakukan meditasi di gunung-gunung, goa-goa, dan tempat-tempat hening lainnya.

Inilah salah satu sisi baik terjadinya pandemic Covid-19. Kita dipaksa untuk melakukan physical distancing dan memiliki lebih banyak Waktu Hening. Melakukan perjalanan ke dalam dan evaluasi menyeluruh pada diri kita. Terjadinya percepatan berbagai siklus di sekitar kita menunjukkan bahwa kehidupan with a higher level of frequency sedang menghampiri kita. Tidak ada pilihan lain, kita harus enhance our body, mind, emotion, and energy capacity.

Menumbuhkan sosok-sosok yang mampu adaptif di masa depan yang begitu dinamis ini memang tidak mudah—bukan Impossible tapi I’m possible. Ini pekerjaan rumah tersulit kita sepanjang hidup, menghadirkan keheningan di dalam diri kita dan anak-anak kita. Walaupun ini never ending process, sangat layak untuk kita perjuangkan.

Salam Smipa

E-mail me when people leave their comments –

You need to be a member of Ririungan Semi Palar to add comments!

Join Ririungan Semi Palar

Pindah ke Desa

Manusia yang sejatinya makhluk sosial telah tercerai-berai, digilas egoisme kapitalistik. Kita telah kehilangan tribe. Ibarat kucing dipaksa hidup dalam air layaknya ikan. Itu sebabnya banyak yang megap-megap tak bahagia. Meski tinggal di tengah keramaian kota yang hiruk-pikuk, namun sering merasa sepi. Mari menepi. Mari kita kembali ke alam. Kak Andy sudah lama mewacanakan ini dan ada beberapa kawan yang tertarik. Mungkin pandemi ini momentum buat kita. Ayo kita bikin desa seperti Auroville di…

Read more…
7 Replies · Reply by Agni Yoga Jun 6

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.