All Posts (333)

Sort by

AES #30 Limun Jahe, Daging Asap & Enid Blyton

 

Hari Sabtu pagi ini seperti biasa saya nongkrong di kedai kopi. Pagi ini saya sangat berharap akan timbul sebuah ide untuk menulis sebab sejak semalam pikiran saya buntu dan tidak mempunyai ide menulis sama sekali.

Sesudah memesan kopi, semangkuk sup tomat dan pastries, saya mulai memandang sekeliling dan membuka pikiran saya seluas-luasnya untuk mencari ide. Nol besar! Malah saya asyik memandangi anjing yang lucu lucu, anak anak kecil yang diajak menikmati akhir pekan oleh orang tuanya, seperti yang saya ambil gambarnya, sebuah keluarga dengan 3 orang anak yang menikmati hari libur dengan bersepeda. 2 sepeda untuk orang tua mereka, sementara 3 orang anaknya duduk di keranjang raksasa.

 

img-20210619-wa0007.jpg?w=1024&profile=RESIZE_710x

 

Sambil menikmati sarapan di depan saya, sebuah butter croissant yang krispi bagian luarnya tapi sangat lembut, airy dan flaky di dalamnya.. ini croissant yang sangat sempurna. Lalu lemon raspberry tart yang bukan main enaknya. Isinya lemon custard dengan beberapa buah raspberry yang dipanggang di atas puff pastry yang sebetulnya mirip dengan croissant tapi lebih airy karena mengandung ragi. Siapapun yang menciptakan pastry semacam ini adalah orang yang sangat jenius! Dough yang diciptakan sebetulnya sederhana tapi butuh keuletan sebab harus melalui teknik melipat dengan lapisan mentega yang sangat membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

 

img-20210619-wa0003.jpg?w=1024&profile=RESIZE_930x

 

Saya tiba-tiba berpikir, mengapa saya begitu tertarik dengan makanan? lalu pikiran saya berpindah ke puluhan tahun yang lalu ketika masih kecil di kampung dan hobby membaca cerita anak-anak karangan Enid Blyton. Lima sekawan, Sapta Siaga, dan seri-seri misteri yang membuka ruang imajinasi saya ketika itu. Pada saat itu saya seolah-olah menciptakan sebuah dunia imajinasi yang luar biasa! Bayangkan seorang anak kampung yang sibuk membayangkan bagaimana rasanya makan roti lapis dengan daging asap dingin, limun jahe dan telur rebus, jenis-jenis makanan yang selalu diceritakan oleh Enid Blyton di buku-bukunya! Pada saat itu saya tidak pernah tau seperti apa rasanya daging asap dingin! Limun jahe? hahaha... hanya angan-angan, dikampung cuma ada sekoteng!! Jangankan membayangkan daging yang diasap, makan daging saja jarang sekali. Pada saat itu saya ingin seperti Jack, Julian, Anne, George bahkan Timmy!

 

Hidup dan kegemaran saya di masa sekarang ini mungkin saja diciptakan berdasarkan imaji-imaji masa kecil. Segala keterbatasan yang saya hadapi di masa kecil menciptakan angan-angan yang selalu ingin dicapai ketika  kemungkinan pertama muncul. Contohnya menikmati makanan yang bagi saya di masa kecil sangat tidak mungkin dijumpai. I think I am now living my dream, living inside my childhood imagination!

 

Hahaha... berhasil juga saya menulis, walau mungkin agak ngawur, tapi nulisnya asyik!***

 

 

 

Read more…

AES036 DOBEDOBEDO

Kali ini saya mau menulis tentang topik di atas ini. DoBeDoBeDo… Saya mendengar ini dari salah satu ahli fisika kuantum, Dr. Amit Goswami yang fotonya ada di atas ini. Dr. Amit juga tampil sebagai salah satu pakar yang mengisi filem tentang Fisika Kuantum yang judulnya What The Bleep Do We Know. Saya sempat bercerita tentang filem ini juga di salah satu tulisan saya

Do Be Do Be Do pada dasarnya adalah bagaimana manusia menjaga keseimbangan hidupnya antara dimensi dalam dan dimensi luar. Antara Doing dan Being. Being adalah non Doing. Masalahnya manusia sekarang sangat terpaku pada doing, doing dan doing. Business (kesibukan) jadi penanda bahwa hidupnya sukses. Bagaimana tidak, orang sepertinya harus sibuk karena waktu adalah uang. Time is Money. Jargon ini begitu membekas di benak kita. Segala sesuatu harus efektif dan efisien. Hal-hal itu adalah jargon-jargon ekonomi. Tapi hidup kita bukanlah melulu tentang ekonomi. Hidup kita adalah mengenai badan, pikiran, emosi dan enerji kita. Ada dimensi kesadaran di dalamnya. Ekonomi, kerja, profesi, prestasi, sukses dan lain sebagainya adalah dimensi luar – pengalaman hidup kita. Bagaimanapun manusia mestinya mewujudkan eksistensinya sebagai Human Being, bukan Human Doing.

Dr. Amit Goswami menemukan hal itu setelah kehidupannya kacau, karirnya mentok, dia tidak bahagia, keluarganya berantakan dan lain sebagainya. Di filem di bawah dalam wawancaranya dengan Iain McNay, Amit bercerita bagaimana dia menemukan keseimbangan hidupnya melalui praktik DoBeDoBeDo tadi.

Being – sejauh saya pahami hanya bisa diwujudkan melalui keheningan dan praktik-praktik meditasi. Karena dalam keadaan meditatif itulah kita bisa mengakses dimensi dalam hidup kita. Tulisan ini melengkapi posting saya mengenai Hening itu Penting, juga sedikit menjelaskan tentang rutin saya setiap pagi dalam tulisan yang berjudul My Morning Sadhana.

Bagi saya ini adalah kepingan penting dalam proses pencarian panjang untuk menggenapi pemahaman tentang pendidikan holistik, lebih jauh lagi kehidupan yang holistik. Saya temukan dalam situasi pandemi COVID19. Situasi yang memaksa kita untuk berhenti, berjeda dan masuk dalam ritme kehidupan yang lebih lambat dari sebelumnya. Saya kira bukan sekedar kebetulan bahwa saya menjumpai hal-hal seperti ini. Saya beruntung juga bisa menuliskan ini di sini. Mudah2an lambat-laun bisa menjadi pemahaman kita bersama di Semi Palar. Salam…

Read more…

A lie can travel halfway around the world while the truth is putting on its shoes.

We live in an age of mis-information.

Every bit of knowledge that Humanity has accrued from the beginning, is available, right  here at our fingertips. However, instead of dying, the culture of ignorance is still going strong in our society.

We have so much facts, so much information, that we no longer know what sources are credible, which stories are true. Or scarier still, we don’t even care about what’s true, especially if it goes against our pre-existing beliefs. This is very unhealthy for society.

9114883257?profile=original

Today’s news sources are based on exaggeration and are intended to be misleading, designed to be eye-catching, appealing to your hopes and fears. When we look at an article, the first thing you see is the headline, and for most people, that’s as far as you’re gonna get, the clickbait title has stoked your emotions, confirming your biases without a second thought.

Emotions are our first response to anything. Every time we consume information, the first process is how you feel about it, and your feelings will greatly influence your judgement thereafter. What people tend to forget is that we need to go further, use reason to confirm your feelings, not otherwise.

This typically isn’t done intentionally, most of us simply don’t have the time to research every single subject to verify the facts and look at things in an objective manner.  But try to take a few minutes to research it further, it will be worth not being fooled. Take notice of the source, is it reputable? is it biased in any way? take note of this, and remember it for the future. Biased stories can still have some value, but be sure to read the other side too, so you can make up your own mind.

The further a society drifts from the truth, the more it will hate those that speak it

-George Orwell-

Read more…

AES#33 Desa Semi Palar II

Salah satu penyebab peradaban umat manusia bisa di-scaling menjadi sebesar (dan sekompleks) ini adalah karena adanya “mekanisme delegasi”. Sebagian besar aspek kehidupan kita sudah kita serahkan kepada orang lain. Contohnya: obat. Ketika kita sakit, kita pergi ke dokter. Lalu dokter memberi kita obat. Kita percaya dan meminum obat itu tanpa tahu apa saja komposisinya. Kalaupun tahu, kita tidak mengerti bagaimana proses kimia yang terjadi di dalam tubuh kita setelah mengonsumsi obat tersebut dan bagaimana cara zat-zat itu menyembuhkan penyakit kita. Demikian pula dengan makanan yang kita konsumsi. Kita tak tahu asal-usul makanan kita. Dsb.

Ada yang bilang hanya nol koma nol nol sekian persen manusia yang memahami bagaimana sistem finansial bekerja. Tak heran berkali-kali kita jadi korbannya. Krisis moneter 1998. Krisis subprime mortgage 2008.

Peradaban kita jadi besar dan mendominasi bumi, tapi mekanisme delegasi itu telah membuat kita kehilangan kontrol terhadap kehidupan kita masing-masing. Seorang manusia menjadi produsen atas sebuah produk atau jasa. Dan menjadi konsumen bagi semua hal di luar yang dia produksi.

Di zaman dahulu kala, nenek moyang kita menyediakan semua aspek kehidupan mereka secara mandiri. Mereka memiliki kontrol penuh terhadap hidup mereka. Batasannya cuma rintangan alam. Sekarang batasannya macam-macam. Human error. Ketamakan orang lain. Dsb.

Tapi semua itu kan demi progres, katanya. Progres apa? Untuk siapa? Amerika dibangun oleh budak-budak kulit hitam yang didatangkan dari Afrika. Apakah hanya karena seorang kulit hitam akhirnya bisa jadi presiden di negara itu (progres) maka penyiksaan di masa lalu terhadap kaumnya dianggap sebagai pengorbanan yang pantas mereka berikan?

Sekarang mayoritas manusia adalah pekerja (budak modern) di berbagai industri dengan gaji pas-pasan. Progres apa di masa depan yang sedang kita usahakan sekarang ini? Apakah kita yakin semua ini demi masa depan cicit-cicit kita yang nantinya bakal hidup dalam peradaban gemah ripah loh jinawi, adil tenteram sejahtera? Bagaimana kalau nanti jadinya malah seperti di film Elysium? Setelah teknologi AI, machine learning, dan robotika sempurna, kelompok satu persen itu naik ke angkasa meninggalkan cicit-cicit kita.

Semangat Indie Rumah Belajar Semi Palar akan kita terapkan di Desa Smipa. Kita akan berusaha untuk mampu mandiri dalam pemenuhan kebutuhan warga sehari-hari. Untuk kebutuhan pangan, kita bercocok tanam dan beternak.

Karena kita tidak pula hendak kembali ke cara hidup primitif, maka kita cari sweet spot-nya. Mana-mana yang akan kita upayakan sendiri dan mana yang masih tetap didatangkan dari luar. Kita perlu berkompromi. Kita bikin bisnis yang dapat menghasilkan uang.

Sekarang kan era creator economy. Kita bisa membuat konten tentang kegiatan di desa kita. Atau konten tentang filosofi kehidupan holistik Smipa. Lalu kita monetisasi konten itu. Kenapa monetization? Lha, untuk membeli barang atau jasa dari luar sana kan perlu money. Itu aturan main mereka. Karena kita akan bertransaksi dengan dunia luar, kita ikut mainkan saja permainan itu. Tapi kalau tidak ingin monetisasi konten, banyak lagi kok yang bisa kita bikin selain itu.

Sekian mimpi saya hari ini. Sebagai penutup, saya ingin share video tentang tiga komunitas mandiri berikut:

"I prefer dangerous freedom over peaceful slavery."Thomas Jefferson

 

Read more…

AES#027 Empat dari Tujuh, Derita

Derita itu keniscayaan, menderita yang pilihan. Penderitaan hanyalah cara menyampaikan kenyataan ini. Berderita bisa jadi caranya menerima kenyataan ini.

Berderita belum tentu menderita, menderita jelas berderita. Menderita, mengalami derita dan hancur karenanya. Berderita, membawa penderitaan melulu baik sedang mengalami derita atau tidak.

Satu melampiaskan penderitaannya kepada semua yang di sekitarnya, membuat semua menderita terkena akibat derita. Nol menelan penderitaannnya semua tak tersisa bagi sekitarnya, membuat semua menderita mencari-cari sebab derita.

Kategori satu (1) atau nol (0) kah, hambatan aliran pusaran energi keempat ini (cakra hati, anahata ). Kesadaran lokal untuk menjalani hal ini, pertama menyadari, kedua menerima, ketiga mengelola. Kesadaran global, perlu sampai langkah ke enam dari tujuh. Yaaa.. tiga tulisan spontan di tiga hari ke depan lah ya 😁

Read more…

AES#14 Miracle of 7 [7 Prinsip Bushido]

Saya belum begitu familiar dengan tahapan perkembangan 7 tahun ala Semi Palar, saat pembekalan saya baru sebatas ‘nyaho’. Sejak saat itu saya terus mencari referensi tentang hal ini, dan ajaibnya saya menemukan banyak hal yang menunjukkan jika angka 7 ini memiliki keistimewaan. 

Sebagai penggemar novel bertema samurai, saya malah baru menemukan bahwa prinsip Bushido para Samurai Jepang ternyata ada tujuh. Dalam budaya Jawa, bahkan dalam ajaran Islam, angka 7 ini merupakan angka yang istimewa. Dan, di dunia musik pun, angka 7 ini spesial. (^.^)

Penjelasan pertama ingin saya mulai dari negeri sakura, Jepang. Salah satunya prinsip Bushido yang digunakan oleh golongan samurai.

"Bushido" berarti "jalan kesatria" yang merupakan prinsip yang harus dipegang teguh oleh golongan samurai pada zaman feodal Jepang. Golongan samurai pada masa itu merupakan golongan paling elit dalam strata sosial, berdasarkan keturunan bukan samurai seorang ahli pedang seperti pikiran kebanyakan orang.

Walaupun kini penggolongan tersebut sudah tak lagi relevan, namun 7 prinsip dasar Bushido masih dipakai hingga sekarang, sebagai prinsip dasar bela diri maupun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, 義 (gi) yang berarti Keadilan. Gi merupakan kemampuan untuk membuat keputusan yang benar, kebenaran disini adalah karena keyakinan diri sendiri bahwa itu hal yang benar, bukan karena menurut orang lain benar. Dalam hal kejujuran dan keadilan, konon seorang samurai hanya ada ‘benar’ atau ‘salah’ mereka tidak mengenal ‘abu-abu’.

Kedua, 勇 (yuu) yang berarti Keberanian. Yuu adalah kemampuan untuk menangani setiap situasi dengan gagah berani dan percaya diri. Seorang samurai tidak pernah takut untuk menunjukkan dirinya pada orang-orang sekitar.

Ketiga, 仁 (jin) yang berarti Kemurahan hati. Jin merupakan kombinasi dari kasih sayang dan welas asih. Jika Jin diterapkan bersama Gi, ini akan meredam seorang samurai menggunakan kemampuannya secara arogan atau mendominasi orang lain.

Keempat, 真 (makoto) yang berarti Kejujuran. Jujur yang ditekankan disini adalah kepada diri sendiri, selain bersikap jujur kepada orang lain.

Kelima, 礼 (rei) yang berarti Penghormatan. Rei berarti harus memiliki sikap santun dan menghormati orang lain, termasuk kepada musuh. Seorang samurai dihormati bukan hanya karena kemampuan dan tingkat sosial, tetapi bagaimana dia menghormati orang lain.

Keenam, 名誉 (meiyou) yang berarti Martabat. Meiyou dapat dicapai dengan selalu berpikir positif, dan ditunjukkan dalam tindakan. Martabat seorang samurai dinilai dari bagaimana dia bertindak untuk mewujudkan cita-citanya.

Ketujuh, 忠義 (chuugi) yang berarti Kesetiaan. Chuugi merupakan fondasi dari semua prinsip moral. Tanpa dedikasi dan kesetiaan terhadap suatu tujuan atau kepada sesama, seseorang tidak bisa berharap untuk bisa mencapai hasil yang diinginkan.

“The true science of martial arts means practicing them in such a way that they will be useful at any time, and to teach them in such a way that they will be useful in all things.” - Miyamoto Musashi

Menurut saya, ketujuh prinsip ini masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kita di masa sekarang. Apalagi jika saya kaitkan dengan proses fasilitasi seorang Kakak (guru) di kelas; komitmen menjalankan guliran pembelajaran minimal satu tahun ajaran, memiliki harga diri, memiliki sikap hormat, jujur, welas asih, berani mengambil resiko atau mencoba ide baru, percaya diri, dan adil memfasilitasi setiap anak didik. Walaupun saya sendiri belum tentu memiliki itu semua, tapi sepanjang prosesnya saya sangat yakin semua hal yang baik itu akan tumbuh dan tertanam dalam diri saya.

Satu hal lagi, motto ini sangat menginspirasi saya : 七転び八起き (nanakorobi yaoki) yang berarti “Tujuh kali jatuh, delapan kali bangun.” intinya, berapa kalipun kita jatuh atau gagal, kita harus punya energi yang lebih besar untuk tetap bersemangat dan mencoba kembali.

9113971863?profile=RESIZE_584x



Salam,

Read more…

AES #29 Faith, Doubt & Virus

Ini mungkin akan menjadi tulisan saya akan akan melahirkan caci maki atau malah dikutuk! hehehe.. tapi ya sudahlah, toh ada yang namanya hak bebas berpendapat dan saya berjanji akan berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Jika merasa tersinggung, mohon saya dimaafkan, Ini hanya sekedar concerns yang saya ungkapkan. Here you go!

 

Akhirnya, sesudah lebih dari 1 tahun, saya memberanikan diri untuk kembali ke gereja. Saya tidak ingat sudah berapa lama, mungkin terakhir pada saat Natal sebelum Pandemi. Jadi anggap saja, akhir tahun 2019.

Kerinduan untuk duduk dengan khusuk mengikuti ritual keagamaan memang berbeda dengan bentuk kerinduan yang lain. Saya memilih tempat ibadah yang agak konservatif, dimana masih terlihat banyak wanita yang berdoa yang menggunakan kain kerudung putih berenda di atas kepalanya. Ini memang gereja Katolik konservatif yang lumayan vokal dalam menentang gelombang sekularisme dan praktik-praktik yang bertentangan dengan kepercayaan yang juga sangat kuat di Amerika, seperti misalnya LGBTQ,  family plan dan abortion!

Anyway, bukan ini tujuan saya cerita. Tapi ada hal lain yang buat saya agak agak terganggu, terutama ada kaitannya dengan masalah keselamatan dan kesehatan sehubungan dengan Covid 19.

Saat masuk gereja saya memperhatikan hampir semua orang menjaga jarak walau tidak ada yang memakai masker. Sekarang di kota saya tinggal memang penggunaan masker sudah menjadi optional dan tidak diwajibkan lagi, jadi saya tidak protes masalah ini. Sebelum komuni, 2 orang petugas maju ke muka altar dan membasuh tangan dengan disinfektan. Saya merasa lebih aman, nyaman dan memutuskan untuk menyambut komuni.

Komuni di sini umat boleh memilih dengan menerimanya di tangan atau hanya membuka mulut tanpa memegang hosti. Saya lebih suka dengan menyambut di tangan, lalu saya tercengang ketika hampir semua umat memilih minum anggur dan petugas hanya membersihkan piala dengan kain putih!! Saya memilih untuk melewatkan anggur. Nah di sini saya mulai ragu-ragu!

Setelah saya komuni, saya menghadapi semacam konflik dalam diri! Apakah iman saya lemah? Ataukah para umat itu ignorant atau malah, maaf, bodoh? buat apa cuci tangan dengan disinfektan kalo kemudian semua orang berbagi germs dengan minum dari piala yang sama? konflik ini terus bergelut dalam batinku sepagian. Saya yakin bagi mereka yang menerima anggur yang sesuai dengan kepercayaan orang Katolik telah tertransformasi menjadi darah yang sacred and Holy. Otomatis kalau sakral dan kudus maka tidak akan menyebabkan penyakit. Tapi saya punya argumen lain, anggur itu sudah menjadi sakral tapi pialanya tidak! hahahaha..

Maaf saya bukannya menghujat. I am not trying to commit some kind of basphemy! Serius! tidak ada niatan. Hanya mngungkapkan konflik bathin dalam diri saya yang sungguh membingungkan. Satu sisi saya ingin menjadi manusia yang beriman kuat, tapi di sisi lain saya juga sebagai orang yang percaya pada ilmu pengetahuan dan sains. Nah ini gimana jadinya?!

Orang berpendapat bahwa sains itu masih muda dibandingkan dengan konsep Agama. Tapi ini juga masih bisa didebat! Banyak kejadian dalam sejarah bahwa pertentangan antara agama dan sains berakhir menyedihkan. Seperti contohnya teori Heliosentris yang diungkapkan oleh Galileo yang kemudian berakhir dengan house arrest bagi Galileo yang kemudian dikucilkan hingga akhir hayatnya karena bertentangan dengan Kitab Suci. Banyak kasus lain yang berkahir dengan hukuman mati, seperti dipancung, dibakar dan sebagainya yang membuat ngeri! Ini fakta sejarah!

Saya memang mencari aman dengan melewatkan anggur demi keamanan dan kesehatan diri. Saya tidak mengenal sekitar 100 orang yang berdoa bersama saya pagi ini, jadi saya tidak tahu apakah mereka semua sudah divaksin, apakah mereka semua tidak membawa virus, dan sebagainya. Fakta berkata bahwa banyak kaum konservatif di Amerika, terutama mereka yang sangat religius menolak eksistensi covid 19 dan pandemik! Mereka banyak percaya itu adalah konspirasi! Nah sangat logis jika saya harus mempunyai sikap dan bertindak secara hati-hati ketika berada di tengah-tengah kelompok konservatif bukan?

Jika teori konspirasi itu tidak dipercayai oleh 100 orang yang berdoa tadi, kemudian mereka berani menerima anggur karena ketebalan iman mereka dan percaya telah anggur telah bertransformasi, lalu ada apa dengan saya? Saya sekali lagi jadi ragu, apakah iman saya begitu dangkal sehingga takut menerima anggur? apakah saya tidak mempercayai tranformasi anggur itu? Apakah saya tidak percaya pada ekaristi yang kudus? Apakah saya tidak percaya akan kehadiran Tuhan dalam sakramen ini? Dimana saya menempatkan diri antara konflik religiositas dan sains? sebab secara scientific saya yakin bahwa piala itu tidak germ-free! Ada virus di sana walau belum tentu Covid 19! Saya harus bagaimana?

Jawabannya, saya tidak tahu! Dan saya tidak bisa diam saja dengan konflik ini. maka jadilah coretan ini, sebab saya gundah gulana, saya dihadapkan pada pertanyaan esensial tentang keimanan. Dan walau sudah sekian lama bertualang mencari kebenaran, pada saat seperti ini saya masih ragu-ragu!

Hermann Hesse berkata," Faith and doubt go hand in hand, they are complementaries. One who never doubts will never truly believe!"

Mungkin itu benar adanya, tapi kapan saya bisa sampai ke level "believe"? karena kalau believe, I think I will never have this fear! atau saya salah?!***

Read more…

AES#32 Desa Semi Palar

Dalam esainya yang kedua puluh lima, Pak Jo bercerita tentang mimpi. Kemarin malam Kak Andy menulis tentang keinginan yang sudah lama ia pendam untuk pindah ke desa. Ayo kita gabungkan esai Pak Jo dan Kak Andy itu. Mari kita menulis tentang Desa Impian: Desa Semi Palar.

Seperti apa Desa Smipa itu? Mari kita rancang bersama-sama. Seperti apa bangunan-bangunannya? Sumber energi dan air minumnya dari mana? Aturan-aturan hidup di desa itu bagaimana? Apa lagi ya?

Pokoknya mari kita pikirkan aspek-aspek utama dalam sebuah komunitas yang hidup bersama, dan bekerja sama, di sebuah lokasi yang masih alami. Nggak mesti jauh-jauh banget juga dari perkotaan. Karena basis desa ini adalah komunitas Smipa, tentu ia dibangun di atas Filosofi Holistik Semi Palar. 

Alangkah luar biasanya jika desa itu nanti benar-benar bisa kita wujudkan. Kalau tidak bisa, ndak apa-apa juga. Anggap aja ini sebagai latihan menulis bertopik. Atau kalau mau lebih keren: ini adalah brainstorming kita dalam mendesain sebuah tata peradaban baru. Ciyeeee, gaya banget kita ya. Namanya juga mimpi, ya Pak Jo. Suka-suka kita dong...Hehehe.

Saya ingin mulai dari sumber energi listrik dulu. Sebab kita kan bukannya ingin kembali ke zaman batu toh? Kita tetap pengen ada lampu-lampu dan bisa berinternet ria. Lagian gimana nanti Kak Andy main electric bass kalau ndak ada listriknya? Gimana Pak Jo meneruskan esainya yang ke 1.473 kalau ndak ada internet?

Kak Andy sudah bicara tentang energi terbarukan di dalam esainya itu. Kalau mau holistik, sumber energi ramah lingkungan tentu wajib hukumnya bagi Desa Smipa. Rumah-rumahnya akan beratapkan panel surya. Di setiap rumah juga ada sepeda statis penghasil listrik yang akan disimpan ke dalam aki kering. Kita berolah raga sambil memproduksi energi yang bisa dipakai buat ngecas hape atau keperluan listrik kecil lainnya.

Wah, sudah hampir jam 12 malam nih. Saya selalu berusaha agar tiap esai selesai sebelum pergantian hariYa udah, segini dulu aja.

 

"First, think. Second, dream. Third, believe. And finally, dare."Walt Disney

 

Read more…

AES035 WHAT'S NEXT?

Setiap kali kita masuk ke satu tahapan, setelah menjalani satu tahapan, selalu muncul pertanyaan, apa berikutnya? What Is Next? Dalam analogi perjalanan, pertanyaan jadi Where To Next? Ke mana selanjutnya? 

Hari ini adalah hari terakhir pembelajaran di Semi Palar. Kakak2 kumpul terakhir bersama teman2 di masing-masing kelompok untuk menutup proses pembelajaran di TP16 ini. Saya hanya membatin bahwa segala yang sudah dilakukan oleh kakak Smipa bawa manfaat dan kebaikan bagi setiap individu yang terlipat, anak-anak, orangtua dan kakak sendiri tentunya. Di sisi lain sejak beberapa waktu lalu, saya terus berpikir tentang pertanyaan di atas ini. Setelah lebih dari satu tahun di masa pandemi, apa yang semestinya kita lakukan. Apakah kita hanya melanjutkan apa yang sekarang ini berjalan, ataukah ada sesuatu yang betul-betul - secara sadar, perlu kita lakukan secara berbeda melihat situasi yang ada saat ini... 

The Best Way to Predict a Future is to Create It

Kata-kata di atas mestinya mengingatkan kita bahwa kita selalu punya pilihan, kemudian juga bahwa kita punya potensi untuk merealisasi itu. Tulisan ini memang masih nyambung sama tulisan saya sebelumnya (silakan klik di sini)

Pertanyaan lanjutnya adalah ke mana kita perlu menuju... Masa depan seperti apa yang kita perlu ciptakan bersama?. Ini selalu jadi pertanyaan tersulit. Sama halnya seperti dulu saat saya berhadapan dengan tanda tanya besar, apakah sekolah yang diangan-angankan perlu kita buat, perlu diikhtiarkan? Di tahun 2004, Semi Palar pun dirintis. Dalam prosesnya, berkali-kali saya berhadapan dengan pertanyaan seperti itu - seperti pada saat memutuskan apakah akan mewujudkan KPB atau tidak di tahun 2014. Akhirnya kamipun melangkah didorong dengan segala ketidak-tahuan. Ya tapi memang begitulah saat kita ingin menciptakan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Kita hanya bisa mengandalkan keyakinan dan melangkah ke alam ketidak-pastian. Beruntung di Semi Palar, banyak teman-teman yang sepemikiran dan bersedia mendukung.

Menutup rangkaian pembelajaran di TP16 ini berbagai karya dan dokumentasi proses pembelajaran disajikan. Dua hari lalu saya menyaksikan presentasi yang dibawakan Natasha, kelompok Turi (K-11) KPB. Dulu KPB sebagai sebuah konsep banyak dipertanyakan (mungkin sekarang-pun masih demikian), tapi setelah beberapa waktu berjalan, kita mulai bisa melihat jejaknya. Berbagai karya dan catatan proses yang lainnya tersimpan di ruang-ruang di Ririungan ini dengan segala keunikan olah pembelajaran anak-anak yang tersimpan di dalamnya. Terkait KPB, Presentasi Tasha ini saya jadikan contoh untuk saya tempatkan di sini. Kebetulan Tasha masih berkesempatan melakukan presentasinya secara Offline di Bengkel Smipa - sebelum kita semua kembali terkurung di rumah karena pandemi yang sedang melonjak saat ini. 

 

Bagi saya, ini jadi jejak nyata dari apa yang dulu hanya sebentuk angan-angan. Kalau kita melihat harapan dan masa depan yang lebih baik melalui apa yang ditampikan Tasha dan teman-temannya, saya memberanikan diri berkata bahwa masa depan sedang dituliskan. A future is in the making. Bagaimanapun, pendidikan adalah tentang masa depan. 

Kembali ke judul di atas, lalu apa, ke mana setelah KPB? Mau melangkah ke mana kita di tahun mendatang? Apalagi dalam situasi pandemi di mana segala sesuatu seakan serba tidak menentu. Apakah kita akan berhenti di sini? Buat saya pribadi tidak, masih banyak hal yang bisa dilakukan dan kerja yang perlu diikhtiarkan.  Tapi saya jadi ingat satu kutipan lagi yang bilang :

Di saat segala sesuatu serba tidak menentu, segala kemungkinan jadi terbuka. 

Jadi marilah kita kembali berangan-angan tentang masa depan yang kita harapkan dan mengambil langkah pertama ke sana. Kita punya pengalaman bahwa kita bisa melakukannya... 

Read more…

AES28 The Paradox of Tolerance

All of us here wants to build a tolerant society where our differences and diversity is a source of strength not conflict. Humanity’s greatest moments are when people of different backgrounds come together, overcome their differences and achieve great things together. In this world, we must accept that there will be people who think and believe different things than us, that’s just humanity, but what do we do when we want to be tolerant, but there are people expressing viewpoints that are hateful and intolerant? Surely our first instinct as tolerant people is to leave them be and hope that by setting a good example they’ll be inspired to leave behind their misguided ways, but this is rarely the case.

The paradox of tolerance, put forth by the philosopher Karl Popper, suggests that if a society is tolerant without limit, it’s ability to be tolerant can be manipulated, seized and eventually destroyed by the intolerant. The paradox part comes in because in order to maintain a tolerant society, we must be firmly intolerant of intolerance. 

Imagine a society where all beliefs and schools of thoughts are freely taught and accepted, even the most heinous, bigoted and hateful ones, such as neo-nazis, white supremacists, terrorist groups, and religious extremists. These groups would use this lack of restriction to further spread their ideas throughout our freely tolerant society and recruit new members, gaining power and eventually forcefully taking over leadership positions and turning it into a dictatorship where tolerant and outspoken people are eradicated. 

In the world we live in today, whenever we try to quell intolerance, they always hide behind the notion of free speech, that their beliefs should be respected just like any other. But they’re not arguing in good faith when they say this. Because they’re not playing by our rules, we shouldn’t expect them to be fair. Any weakness we show or concession we give them, they’ll take advantage of, give them one step and they’ll take three. We cannot tolerate a worldview that is fundamentally incompatible with ours.

This has already happened many times in history, I think the most hard hitting and recognizable example is the beginning of World War 2. Where Britain allowed Hitler’s Germany to expand their territory by a little bit, letting him do what he wanted, hoping that it would satisfy them and avoid further escalation. Hitler took this concession as a sign of weakness, and quickly broke the agreement, invading more countries and starting World War 2, where countless millions of lives were lost. We have to learn from the past, stand united against hatred, and never let them destroy what we’ve worked so hard to build.

Read more…

AES03 - Shine

Shine adalah seekor kucing yang selalu ceria. Warnanya oranye terang, tubuhnya kecil dan bulat. Dia bungsu di antara sembilan kucing kami. Dia kami temukan di dekat rumah, dibuang orang di antara semak-semak. Saat kami menemukan Shine, ada juga tiga ekor kucing lain. Dua dari tiga kucing ini akhirnya meninggal. Hanya tersisa Shine dan kucing hitam itu, yang kami beri nama Shadow. Mereka masih kecil sekali waktu itu, belum sampai dua minggu. Kondisi Shine paling mengkhawatirkan. Bagian belakang tubuhnya bengkak, jadi dia sulit berjalan dan duduk.

Pada saat itu, kami sudah memiliki sekeluarga kucing yang lain. Mereka menerima kedatangan Shadow dan Shine. Bahkan, satu kucing bernama Teh sering mengajak mereka main. Teh juga menjilat-jilat bagian tubuh Shine yang bengkak, seolah ingin menyembuhkannya. Lalu, ajaib, bengkaknya memang sembuh! Shine mulai lebih segar dan aktif. Dia sudah bisa berlari ke sana kemari, bermain dengan Shadow.

Kami juga memiliki satu kucing di dalam rumah, namanya Blue. Dia sendirian karena sering menyerang kucing lain. Dia juga tidak bisa mendengar. Ketika sudah lebih kuat, Shine dan Shadow kami perkenalkan padanya, langsung diterima dan disayang. Mereka tak hanya berteman dengan Blue. Mereka juga berteman dengan anjing kami, Fluffy. Anjing kami yang lebih besar, Huggy, juga membiarkan mereka masuk ke kebunnya. Pada akhirnya, kedua ‘anak kecil’ ini memiliki ‘paspor’ ke seluruh tempat di rumah. Semua menyayangi mereka, baik itu kami, kucing lain, maupun para anjing. Terutama pada Shine.

9111145681?profile=RESIZE_710x

Karena dia kucing bungsu, kami memanggilnya ‘Baby Shine’. Kata ayahku, wajahnya memang awet muda. Kataku, lebih tepatnya awet bayi. Dia sering memasang wajah tak berdosa ketika minta makan. Bila bermain dengan Shadow, Shine sering kalah dan merengek minta belas kasihan. Padahal semuanya tahu dia melebih-lebihkan ketika memasang wajah kesakitannya.

Shine, yang dulunya susah makan, menjadi rakus sekali! Apapun yang sedang kami makan, dia ingin juga. Ayah pernah memberinya kacang garuda pedas, siapa tahu dia jadi berhenti minta-minta karena takut kepedasan. Eh, dia malah suka.

Ekor Shine sering kusebut ‘ekor nanggung’. Tidak panjang, tidak juga pendek, hanya setengah. Ujungnya bundel, kaku pula. Mungkin lukanya dulu masih belum sembuh betul, karena ekornya tak bisa ditekuk-tekuk. Ditarik ke bawah, naik lagi. Kalau dia berlari, ekornya bergoyang-goyang lucu. Ditambah dengan hidungnya yang merah dan meong-nya yang memelas, semakin membuat kita tidak tega.

Tapi yang paling khas dari Shine adalah karakternya. Dia selalu gembira, kalau marah tidak pernah lama. Dia juga ramah dan mudah dielus-elus. Bila ada orang yang kebetulan jalan kaki lewat rumah kami, pasti dia sambut dengan ceria.

Aku sering merekam perilaku kucing-kucingku di tablet. Pernah, suatu pagi, aku memasang tali Blue di kalung Shine. Tali ini dipakai Blue tiap pagi untuk jalan-jalan—kegiatan yang paling dinantikannya, karena ini satu-satunya saat dia bisa keluar. Ketika Shine dipasangi tali, dia kebingungan dan berguling-guling lucu. Aku tertawa dan melepaskan talinya. Lusa akan kurekam, kupikir.

Tetapi lusa tidak pernah datang untuk Shine. Keesokan harinya, dia tertabrak mobil. Untungnya tidak ada luka terbuka, tetapi yang tertabrak adalah kepalanya, sehingga berakibat fatal. Dia dikubur di kebun dekat rumah. Petak tanah ini kini ditanami bunga yang sering Shine mainkan.

Semua kucing lain tampak lebih murung. Bahkan anjing-anjing kami juga. Shadow, teman main Shine sejak kecil, paling terdampak. Sore itu, dia bermain lama sekali di dekat kuburan Shine sambil hujan-hujanan. Biasanya dia masuk bila hujan.

Kami juga sedih sekali. Meskipun waktu itu aku tahu Shine pasti bahagia, aku tetap sangat tertekan. Semuanya terjadi tiba-tiba, tanpa sempat berpamitan atau apa-apa. Mungkin lebih terasa karena Shine kami urus sejak kecil. Dia datang beberapa bulan sebelum pandemi, sehingga kami bisa melihatnya tumbuh karena banyak di rumah. Kejadian menyedihkan ini terjadi pada tanggal 30 November tahun kemarin, jadi sudah cukup lama, dan aku sudah memiliki waktu untuk merenungkannya.

Pada hari keempat setelah Shine pergi, aku sudah mulai lebih melepaskannya. Sekarang aku sudah tidak sedih lagi, meskipun aku kadang sedikit merindukannya. Tapi, kepergian Shine memberiku banyak pelajaran. Kadang kita tidak menyadari betapa berharganya suatu hal hingga hal itu tidak kita miliki lagi. Kadang kita tidak menyadari bahwa, suatu hari nanti, hal itu akan pergi. Sekarang, bila kupikir lagi, dulu aku tidak menyadari akan harus mengucapkan selamat tinggal pada Shine. Secara teori, tentu saja aku tahu dia tidak bisa bersamaku selamanya. Tetapi tak pernah benar-benar kupikirkan—dan memang tidak baik juga dipikirkan dalam-dalam. Tapi Shine masih ada di kenanganku, itu yang penting. Kita tidak bisa melupakan sesuatu hanya karena mengingatnya kembali membuat kita sedih. Kita perlu belajar tetap mengingat tapi menerimanya.

Read more…

AES #28 Lelah

 

                                                         Cannonball Adderley

 

 

Seperti biasa menjelang waktu istirahat di malam hari, saya menutup kegiatan hari ini dengan merenung sambil menanti kantuk datang.

Hari ini tidak terlalu produktif karena tubuh sangat lelah. Pekerjaan untungnya bisa ditunda hingga besok ketika ngantor. Hari ini bisa bekerja dari rumah.

Mood masih tidak jauh dari nostalgia. Kali ini mendengarkan lagu-lagu masa sebelum kepincut jazz. Pernah dengar Alan Parson Project? Misalnya yang cukup beken adalah Eye in the sky. Cuma anehnya kalau dengar lagu ini saya jadi ingat makan baso kampung di tempat kost teman-teman di Panca Tunggal, Taman Sari hahaha.. penjualnya anak muda yang oleh teman-teman perempuan saya dipanggil si Manis! kacau ini mah. Renungan malam babak belur gara-gara lagu!

Untungnya lagu berikutnya adalah Earl klugh, Waltz for Debby. Ah.. indah sekali lagu ini. Apalagi petikan gitar maestro ini bisa membuat hati sangat damai. Lalu dilanjutkan dengan lagu yang sama tapi dimainkan oleh Bill Evan dan Cannonball Adderley, salah seorang Jazz Saxophonist handal. Ya Tuhan! Ah.. musik memang punya kekuatan ajaib yang bisa memainkan perasaan.

Ya, tubuh lelah mungkin masalah thyroid mulai mengacau lagi. Jadi malam ini saya tidak mau berpikir apa-apa dan mau menikmati lagu-lagu saja hingga tertidur.

Melamun mendengarkan lagu-lagu seperti ini memang mengasyikan. Apalagi jika duduk dengan segelas minuman menyaksikan pemain saxophone, piano, drum dan bass sambil memainkan gelas dan bunyi es batu menyentuh dinding gelas ketika digoyang-goyangkan. Seperti waktu itu di salah satu klab di Chicago. Hmmm... Sambil memejamkan mata, imajinasi melayang layang.. hidup memang harus disyukuri dalam kondisi apapun. ***

 

 

 

 

 

Read more…

“Knowledge is Power”

-Francis Bacon-

The Enlightenment is probably my favorite era of human history. And has the most impact on my worldview and values. It was the age of reason, with tremendous advancements in science, philosophy, politics and much more. It produced some of the most brilliant thinkers of the century, and paved the way for human progress with its strong commitments to freedom and science.

I’ve been learning a lot about the Enlightenment, particularly in the field of political theory. Here I will attempt to summarize what we can take from the Enlightenment, and how we may use these valuable lessons in today’s world.

The Age of Enlightenment is an intellectual movement that took place in the 18th century throughout the Western world. The Early Enlightenment thinkers have produced many successes, but it’s not without its failures. But from these failures, we can reassess our goals and reconstruct them to better suit our situation today, in the revised mindset we call the Mature Enlightenment.

Certainty vs. Fallibilism

At first, the Enlightenment commitment to Science used it as a certainty. An indisputable proof of what something ought to be. But after time went by and we became wiser, we realized that this is not what Science is supposed to be.

Over time, we understand that scientific progress is provisional. That fallibility is the strength of Science. Its incremental progress when a new scientific theory explained everything the old theory did plus some more. This fallibility allows us to keep improving and adapting over time.

Deduction vs. Experimentalism

The Early Enlightenment Thinkers were sure that you can find all the answers to your question within yourself, all you need to do is keep a clear mind and think very hard, keep deducing until you’ve found the answer.

Now we need something different. Experimentation is the key here. It's doing something more than just thinking. It's outward looking, it requires us to understand the outside world and experiment with the solutions we think we may have.

Technical vs. Procedural

The Early Enlightenment thinkers thought that you can get technical, unchanging answers for any issue, and it will stand the test of time. Now we recognize that there are serious limits to this way of thinking. Procedural answers best suit our world today. The solution we offer should always be open to modifications and improvement.

 So to wrap it all up, the main values we can take from the Enlightenment are: reason, science, progress, equality, liberty/freedom, and tolerance. Values that are needed now more than ever.

Read more…

AES#31 Cemas

Perkembangan pandemi saat ini di Indonesia membuat kecut hati. Kita diliputi ketidakpastian dan kecemasan. Bagaimana nasib kita ke depan?

Tadi sore saya berkomunikasi via WA dengan Kak Andy. Kami bertukar informasi mengenai kondisi hari ini. Kak Andy mengatakan di jalanan ambulans mondar-mandir tiada habisnya. Malamnya saya menelpon teman; ceritanya persis sama seperti Kak Andy. Sirene ambulans tak henti-henti terdengar dari rumahnya.

Berita-berita yang muncul hari ini juga seram semua. Di detik.com ada pernyataan dari Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr. Masdalina Pane: jika pengendalian virus Corona di Indonesia tak diperketat, fasilitas kesehatan Indonesia diprediksi kolaps, selang dua minggu hingga satu bulan ke depan.

Orang-orang di daerah tempat saya tinggal termasuk kurang peduli dengan protokol kesehatan. Istri saya belum divaksin. Kemarin saya menanyakan apakah dia mau ikut vaksinasi massal di GBLA. Tapi katanya nanti dulu aja.

Pelaksanaan vaksinasi massal di GBLA hari ini sempat kocar-kacir akibat cuaca buruk. Ada hujan es disertai angin kencang. Tenda tempat vaksinasi ada yg ambruk. Tapi syukurlah pada pukul 19:30 WIB, di halaman teras Stadion GBLA sudah habis antrian masyarakat calon peserta suntik massal vaksin Covid-19.

Dalam situasi begini, saya berkhayal seandainya komunitas Smipa sudah punya desa sendiri, tentu saya tidak akan sekhawatir sekarang.

Semoga kita semua selamat melewati pandemi ini.

 

"Disasters amplify the inequitable aspects of the world we live in."Mami Mizutori

 

Read more…

AES 034 Apakah Ini Waktunya untuk Perubahan?

Lima belas bulan sudah kita berada dalam situasi pandemi. Sementara kita berharap pandemi bakal berakhir, situasi tampaknya selalu memburuk... Hari-hari ini juga begitu, kasus COVID meledak di mana-mana, rumah sakit penuh, kematian semakin banyak belum lagi kabarnya ada varian baru virus yang ditemukan. 

OK... lalu apa, lalu bagaimana? Sebetulnya kita selalu punya pilihan. Manusia selalu punya pilihan. Ini adalah keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Keistimewaan inilah yang menjadikan manusia bisa menjadi spesies yang paling dominan di planet ini. Masalahnya adalah seberapa jauh kita mau menelaah pilihan-pilihan apa yang kita punya, lalu apakah kita berani menentukan pilihan dan selanjutnya merealisasikan pilihan itu. Saya pribadi percaya tidak ada peristiwa kebetulan. Everything Happens for a Reason. Pandemi ini? Sami mawon. Ada pesan yang diberikan kepada kita. Kalau jalan kita mentok, ketemu penghalang yang ga bisa kita tembus atau lewati, berarti itu saatnya kita belok dan mencari jalan lain. 

Tahun 2017 di Semi Palar kita punya kegiatan Smipa Solar Project - belajar dan berkenalan dengan enerji terbarukan. Selepas proyek itu, gagasan-gagasan bermunculan tentang PhD. PhD singkatan Pengen Hidup di Desa. Kita punya grup WA, dan ruang minatnya di sini di Ririungan Semi Palar. Untuk melihat apa isinya, silakan klik di sini.

Banyak inspirasi yang mendorong angan-angan ini muncul. Awalnya adalah sejak perjumpaan saya dengan Bumi Langit Institute di Imogiri Jogjakarta. Kisahnya ada di sini, di website Semi Palar : Berkenalan dengan Bumi Langit Institute. Tahun 2017 saya juga pergi ke Desa Kandangan di Temanggung, mengantar Rico untuk proyek mandirinya, magang di Spedagi - di bawah bimbingan mas Singgih Susilo Kartono, perancang radio kayu Magno dan Sepeda Bambu. Kisahnya ada di sini. Sepulang dari sana saya menulis blogpost saya yang berjudul (Ingin) Pindah ke Desa. Kenapa begitu? Karena saya melihat dan merasakan, bahwa kehidupan yang holistik memang bisa ada di sana, di desa. Di tempat yang sederhana, di mana kita masih bisa punya koneksi kuat dengan alam dan masyarakat yang hidup di sana. Saat ini di Semi Palar, kita terus berusaha Menggulirkan Pendidikan Holistik. Tapi di desa, kita bisa merasakan, mengalami Kehidupan yang Holistik. 

Kalau saya ditanya, apakah ingin terus seperti sekarang ini seandainya pandemi berjalan dalam waktu yang panjang? Jawaban saya jelas. Tidak. Saya pribadi merasa kita punya pilihan. Daripada terus terkurung terus di rumah untuk mengindar dari pandemi, saya lebih memilih hidup di tempat sederhana yang jauh dari keriuhan - kerumunan orang, di tempat yang lebih luas dan terbuka, di tengah alam dan udara bebas, agar lebih sehat jiwa dan raga kita... Kita punya pilihan itu kok. Lagian di Semi Palar kita ga sendirian. Banyak yang berpikiran sama, punya angan-angan serupa. Kalau kita mau, saya yakin kita bisa mewujudkannya. Dari sini, kita bisa beralih dari Pendidikan Holistik ke Kehidupan Holistik, kehidupan yang lebih utuh dan lebih terkoneksi. 

Melihat segala situasi yang ada, pandemi yang sudah sekian lama mengurung kita, saatnya kita bertanya, "Apakah ini Waktunya untuk Perubahan?" 

 

  

 

Read more…

AES#026 Tiga dari Tujuh, MALU

Yang ketiga adalah keinginan. Keinginan selalu berusaha memenuhi keinginan, bahkan sampai kepada keinginan untuk tidak memiliki keinginan. Apapun bentuknya, polanya sama saja yaitu mengisi kekosongan. Seperti kendi yang menginginkan terisi air, ia meminta. Menginginkan terisi udara, ia memberi.

Hambatan pengelolaan keinginan ini adalah rasa malu. Keinginan selalu terhambat rasa malu, padahal mau. Tak tersampaikan apa yang benar diinginkan, karena belum sampai pada kehendak. Baru mau saja, seperti mendengar tukang es dong-dong lewat depan halaman lalu spontan berteriak, "mauu...!" Padahal eskrim cone masih ditangan belum termakan.

Malu pun tidak melulu menutup tangan, malahan seringkali mengumbar kemana-mana. Seperti pemberian yang penuh keinginan timbal balik, tak tersampaikan karena sibuk menginginkan lewat pemberiannya. Seperti spontan memberi makanan, memberi bantuan, menolak pertimbangan, karena malu menerima kenyataan kalau yang diberi sebenarnya tidak membutuhkannya.

Keinginan tanpa kehendak hanyalah konsumsi tanpa kreasi. Mengendalikan tanpa memimpin, mengulas tanpa menindak lanjuti, mengarahkan tanpa membuka jalan. Malu akan kekosongan, sibuk mengisi dengan semua kemauan. Baik dengan melahap makan semua yang ada dalam jangkauan. Juga dengan memberi jor-joran tanpa saringan kepada semua yang ada dalam jangkauan.

Malu yang memakai topeng dan bersembunyi di belakang sambil mengarah-arahkan, disimbolkan dengan nol. Malu yang memakai kostum perayaan dan menari-nari di depan sambil menarik-narik perhatian para pemegang warisan, disimbolkan dengan satu.

Read more…

AES02 - The Road Not Taken

If you like poetry, chances are you’ve heard of Robert Frost’s most famous poem—The Road Not Taken. There are many famous poems, poems quoted every once in a while by most people. But this poem is quoted very often, especially the last lines. The poem goes like this:

 

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveller, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth.

 

Then took the other, just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

 

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black.

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way,

I doubted if I should ever come back.

 

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I—

I took the one less travelled by,

And that has made all the difference.

 

It is indeed very well-known, yet almost always misinterpreted. The most commonly quoted verse is the final one, which just so happens to be rather ambiguous when taken without context. This interpretation says that, in order to grow and flourish, we must be adventurous and take the ‘road not taken’. We must be brave enough to take this road, no matter what the general public thinks. We must learn to take risks and follow our dreams.

But if you read the preceeding verses carefully, you might notice something else, a road away from said deciphering. I found a more thorough explanation in this video. But it all boils down to this: the narrator, the ‘I’ in the poem, seems like an indesicive person. This is clear in several lines of the poem. ‘And having perhaps the better claim,’ is one example. ‘Though as for that…’ is another one. Usage of words like ‘perhaps’ makes it evident that the narrator isn’t so sure himself.

He even says that the other road is ‘just as fair’ and that ‘the passing there/Had worn them really about the same’. Both these roads are identical. It doesn’t matter which road he takes. The final verse, the commonly quoted verse, makes his indecisiveness all the more apparent. The whole verse is about the narrator overthinking his decision and ‘telling this with a sigh’. He believes that the decision he has made resulted in where he is now. There’s a sense of longing and curiosity from him for the other road—the road he didn’t take. He laments about what he has missed, even though he himself stated that both roads were the same.

But what is truly interesting is how this poem ties with the death of Edward Thomas, one of my favourite poets besides Frost. An in-depth story of this can be read in this Guardian article.

Frost grew up in New England, but he moved to Great Britain in 1912. Here, he met Thomas. At the time, they were both trying to make a living as poets. They grew extremely close to each other and would enjoy walks together in the nature.

Then the war came in 1914. Though they didn’t know it at the time, it would eventually seperate them. But the walks in the nature continued. Frost observed Thomas’s indesiciveness, and it inspired him to write Two Roads, later renamed The Road Not Taken. It was Frost’s friendly, gentle way of mocking Thomas. Yet Thomas took it too seriously. Previous events had made him guilty about not enlisting in the war. He wrote a poem titled ‘Roads’, inspired by The Road Not Taken. A line in his poem said, ‘now all roads lead to France’. So to France he went. Even though Thomas was 37 at the time, therefore able to avoid enlisting, he enlisted. He was eventually killed in Arras, France in April 1917. I haven’t found any sources about Frost’s reaction.

All that said, this interpretation is by no means fully ‘correct’. Poetry, like all art, is open to any interpretation and there is no ‘right’ or ‘wrong’. We can’t call out people for using the quote in greeting cards or motivation videos. Honestly, the common interpretation of the poem is motivational and true. But it is still very interesting to know the story behind the poem. I myself was surprised to read about it, especially since the quote is one of my mother’s favourites. I shared this story with her and she may have been a little disappointed.

Read more…

AES #27 Mezzoforte, Casiopea & Michael Franks

 

 

Menjelang jam 12 malam. Tiba-tiba saya kepingin mendengarkan lagu-lagu jaman kuliah. Mungkin ini gara-gara ngobrol soal musik di Atomic Essay Smipa. Untunglah jaman sekarang ini segala sesuatu mudah diperoleh. Jadi langsung buka youtube, pasang earbuds dan mendengarkan Mezzoforte dan lain-lain sambil melamun menunggu kantuk datang.

 

Jaman itu yang namanya hunting musik Jazz fusion jadi kegiatan yang seru. Pernah dengar Garden Party-nya Mezzoforte? Ini kelompok pemusik jazz fusion Islandia yang jaman itu ngetrend banget. Kalau tidak tau Mezzoforte, pasti diasingkan dan dianggap nerd hahaha..

 

Kegiatan mahasiswa jaman saya ya begitu. Musik Jazz Fussion jaman itu kebanyakan yang dominan menggunakan alat tiup seperti terompet, saxophone, lalu synthesizers, electric bass guitar dan lainnya. Kalau ada kaset baru teman-teman langsung ngumpul sambil main kartu truff PKI dan stel lagu kenceng-kenceng. Pernah dengar Casiopea? Ini grup musik Jepang yang juga digandrungi. Biasanya Kalau mulai capek lalu ganti dengan mendengarkan Michael Franks yang suara dan warna musiknya khas banget. Nah dengar musik-musik gitu memang bikin lebih produktif mengerjakan tugas atau siap-siap buat ujian akhir semesteran sambil ngopi kapal api yang harus diseduh dan dibiarkan mengendap dahulu, sebab kalau langsung diminum nanti gigi hitam-hitam penuh dengan bubuk kopi hahaha...

 

Aquarius dulu adalah toko kaset yang beken banget, tapi buat mahasiswa miskin ya termasuknya mahal. Ke sana cuma duduk coba-coba kaset dan catat lagu yang disukai. Di sana disediakan banyak headphones untuk mendengarkan lagu. Sesudah kita ngumpulin daftar lagu, lalu ke toko Tengah di Dago dekat pertigaan jalan Juanda dan Sultan Agung, dan di situ minta direkamin kaset. Biasa butuh sehari atau 2 hari. Jadi engga usah beli banyak album, melainkan saya punya 1 album kompilasi semua lagu favorit dengan harga lebih murah.

 

Hahaha... masa kuliah memang seru! Demi bisa beli kaset untuk koleksi, rela makan bubur kacang setiap hari pagi, siang dan malam, buat kacang ijo sedikit tapi airnya seember. Jadi hemat! Daripada hutang ke warung bu Ipah, mendingan begitu. Yang penting koleksi kaset lengkap! Duh mudah-mudahan cerita ini engga bikin jurang generasi terlalu jauh ya hahaha! Tidur dulu ah***

 

Read more…

AES#30 Satu Bulan

Ini atomic essay saya yang ketiga puluh. Saya merasa sangat bahagia karena telah berhasil menulis setiap hari berkat program Atomic Essay Smipa.

Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Kak Andy selaku Kepala Suku komunitas kita yang telah mendukung pelaksanaan AES. Terima kasih juga untuk teman-teman semua yang telah berpartisipasi dalam kegiatan literasi kita ini. Semi Palar, bagi saya adalah Tribe terpenting setelah keluarga saya.

Saya ingin merayakan pencapaian ini dengan menanggapi esai Kak Fifin yang ketiga belas.

Dalam esai itu, Kak Fifin menyoroti tentang kegugupannya menulis “topik berbobot”. Dengan penuh kerendahan hati, izinkan saya berbagi pandangan soal itu.

Semua hal yang penting bagi kita adalah penting bagi kita. Tak peduli apa kata dunia dengan segala ukurannya. Selama kita berada dalam sebuah komunitas yang berbudaya sehat, dalam relasi yang tidak toxic: hal yang penting bagi kita tentu akan diapresiasi oleh orang-orang di komunitas tersebut. Kalau ada yang menyepelekan cerita hidup kita, dia bukan sahabat sejati.

Lagipula, kalau hanya ingin menyepelekan, apa pun bisa disepelekan. Sesakral apa pun itu. Sebab, jika hanya mengacu kepada sains, semua yang dijunjung tinggi manusia dalam peradaban ini pun hanyalah isapan jempol belaka. Negara dan nasionalisme? Itu cuma dongeng. Ekonomi? Itu cuma dongeng. Terpulang pada diri kita masing-masing mana yang kita pilih untuk disakralkan. Kalau tidak ada yang kita anggap sakral, tentu sungguh hambar jadinya hidup ini. Menurut saya, hidup kita dengan seluruh pernak-perniknya yang terutama perlu kita sakralkan. Mari kita menulis tentang sarapan pagi kita karena sarapan pagi kita adalah peristiwa istimewa.

Salah satu alasan orang enggan menulis adalah karena merasa tidak ada yang “wah” yang hendak diutarakan. Padahal kehidupan ini sendiri adalah “WAH!” yang maha dahsyat. Malam ini saya masih hidup dan mengetikkan esai yang ketiga puluh adalah suatu keajaiban.

 

"There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle."Albert Einstein

 

Read more…

One of the penalties for refusing to participate in politics, is that you end up being governed by your inferiors

– Plato –

Politics has a bad reputation nowadays. During my daily conversations I realized that most people want nothing to do with it.

It’s synonymous with dishonesty and broken promises. And to most extents, it’s true. Our political systems are being taken advantage of, self-interested politicians exploit rules to further the agendas of corporations. The siren songs of power and money are played daily, turning young idealists to establishment sellouts.

We feel betrayed over and over again, our efforts don’t seem to do anything. This is why most people nowadays don’t bother to keep up with the political scene.

Or, they don’t feel that it impacts their lives directly, therefore giving up their voice. It’s easier to not care when it’s not your rights that are being taken away, your way of life threatened, your future taken away. But there is an important thing about politics that most people don’t seem to realize, that it impacts every aspect of our lives. We all lead vastly different lives, with different hobbies, careers and values. But something we can all agree on is that everyone deserves to live a good life, and the best way to achieve that is to be involved in the political scene.

The system we have now is far from ideal, but if we can’t change it if we don’t act together, and act fast.

You may not take interest in politics.

But politics will take interest in you..

The stakes have never been higher. Politics affect every single aspect of our lives. It’s the great decider. The future of our society is led by the policies that will change how we live our lives. Turning a blind eye to this is only going to make it easier for them to undermine our democracy. Some people will go to any lengths to win. Bending the rules, money politics, smear campaigns, and lying to make themselves look good.

We should all do something to right the wrongs we see and not just complain about them.

And I admit, politics is very hard to get into. Especially if you don’t know who represents what. In some countries like the United States, there are only two major parties that represents two different ideologies, but in a country like Indonesia, there are dozens of political parties, and their ideologies and stances on social issues change with the candidates they support. The representatives who hold office may not have your best interest in heart. In fact, it’s more likely that they don’t. It’s our job to make sure that our leaders and decision makers are capable and principled.

Educate yourself on candidates and issues, because ignorance and apathy are our greatest enemy. And if you can, try to make others care too. Show them that together, we have a voice, together, we can make a difference. There is still hope. Movements and social awareness are rising all over the world, demanding justice and reform. Actual honest representatives of the people need your help. It will be a long uphill battle, but it’s sure as hell better than lying down and letting them destroy everything we have worked toward, a better tomorrow.

Our lives begin to end the day we become silent about things that matters

– Martin Luther King Jr. –

Read more…

Lingkar Blogger Smipa | ayo gabung

Bagi rekan-rekan yang sempat mampir ke laman ini, mari gabung ke Lingkar Blogger Smipa, ruang di mana kita bisa belajar menulis dari teman-teman lainnya.

Mari gabung juga di Atomic Essay Smipa